Rabu, 02 Maret 2011

Ketika saya membayangkan sang malam…


Hati saya berdendang senang…
Jiwa saya terbang melayang …
Perasaan saya terbebas dari kelam…
Benak saya terlepas dari suram…

Ketika saya membayangkan sang malam...

Sebuah mimpi menjadi nyata...
Sebuah kenangan tak lagi maya...
Sebuah harapan tak sekedar hasrat...
Sebab sang malam telah membuat saya terpikat...

Ketika saya membayangkan sang malam…

Dunia menjadi indah gemilang…
Langit gelap penuh dengan bintang…
Saya merasakan cinta penuh membahana…
Saya merasakan dendang bahagia…

Hari Ini


Hari ini kulewati seribu waktu menumpu...
Hari ini kujajaki sejuta hati melayu...
Diam! Biar kulagukan sebaris pujian
Tenang! Biar kualunkan merdu nyanyian

Hari ini kudapati sebilah cinta merayu...
Hari ini kulalui searah jalan menunggu
Berhenti! Biar kuamati tabur bintang di awan kelabu
Resapi! Biar kudengarkan syair cinta syahdu

Nanti dan dinanti...kan kutemui
Tunggu dan ditunggu kan kujalani
Hidup bersama mimpi nan merayapi
Hidup bersama cinta tak terdaki
Dan ku jatuh cinta pada hari ini...

Juwitaku Sendiri


Tertawalah selagi kau bisa…
menangislah selagi kau mampu…
sebab setelah kau lewati masa sendirimu, kan kuikat kau dengan tali kasihku…
kan kujadikan kau bonekaku…
hingga tak ada lagi aku, kau, dia.
Hanya kita dan kami.
Melangkahlah selagi kau kuat…
 menarilah selagi kau bergairah…
sebab setelah kau lewati masa sendirimu, kan kuborgol kau dengan rantai emasku…
kan kujadikan kau pajanganku…
hingga kita hanya ada kita.
Dalam satu yang satu.
Juwitaku sendiri berlari dengan langkah manisnya…
menerjang hujan di musim kemarau…
mengejar kekasihmu yang aku.
Betapa cintamu membuatku tak lagi rela melepasmu.

Juwitaku percayalah, bahwa tanpamu aku tak mampu terbang…
Sebab kaulah sayapku, kaulah kekuatanku…
Bahwa tanpamu aku tak mampu berlayar…
Sebab kaulah perahuku, kaulah anginku…
Maka Juwitaku sendiri…
Menanti kekasihmu yang aku…
Agar kita satu dalam satu…
Agar kita mampu terbang dan berlayar…
Dalam satu waktu, dalam kita.






Mandala 1 Jogja, 17 November 2007

Dalam Mimpi Itu Saya Berlari

            Semalam saya mimpi buruk sekali… mimpi itu membuat saya berlari jauh-jauh karena ingin bersembunyi. Mimpi buruk yang terasa amat nyata. Atau memang semua itu bukan hanya mimpi belaka?
Tapi, hingga saya bangun tadi pagi, saya tak ingat lagi apa yang membuat saya berlari. Walau perasaan takut masih menghinggapi saya hingga kini. Perasaan was-was masih menyelimuti saya sampai sekarang. Perasaan aneh karena saya memang tak bisa mengerti mengapa.
            Ketika harus bekerja pun saya masih memikirkan dan berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi dalam mimpi saya itu. Namun, tak juga ketemu. Tak juga terpecahkan. Bisa-bisa saya gila hanya karena penasaran berlebih pada mimpi buruk yang terlupa ketika bangun dari lelap.
            Bahkan saat malam kembali datang, saya masih berharap untuk bisa meneruskan isi mimpi saya itu. Seandainya saja saya tahu sebabnya, pastinya akan lebih mudah bagi saya untuk mempersiapkan diri sebelum tidur dan bertemu dengan sang mimpi.
            Sangat menyiksa. Saya hanya ingin tahu saja.



29 April 2009

Hanya Sebuah Prosa

               Terkadang aku ingin seperti air yang tenang dan mengalir anggun. Namun terkadang pula aku ingin seperti burung-burung gereja yang terbang kian kemari kemudian hinggap sesuka hati. Lalu kusadari lagi bahwa aku ini hanya manusia. Aku hanya bisa merangkak, berjalan, dan berlari. Sebab aku tidak bisa terbang. Aku tidak memiliki sayap yang bisa membawaku melayang lenyap dalam senyap. Aku hanya seorang perempuan yang pernah memiliki masa kecil yang menyedihkan. Aku hanya perempuan dengan sejuta angan tanpa pernah bisa menggapainya semua. Dan aku hanya perempuan yang selalu mengingat-ingat masa kelamnya.
 
Terkadang aku ingin berjalan jauh tanpa henti hingga akhirnya kakiku tak mampu lagi melangkah. Aku ingin berlari dari semua kenangan buruk yang membuatku terpuruk. Namun kusadari bahwa aku hanya manusia yang memiliki kesempatan memperbaiki semuanya tanpa pernah berhasil memperbaikinya. Aku hanya perempuan yang harus menjadi yang tertegar hingga aku sendiri lupa pada wujud asliku. Dan aku hanya perempuan yang terjebak di antara banyak pilihan hidupku.

Bila nantinya aku memilih satu jalan, maka aku akan bertemu dengan percabangan jalan yang lain. Namun bila aku tetap berhenti maka aku hanya akan mengering dan mati sia-sia. Aku hanya perempuan yang harus melangkah ke arah yang tak kuketahui akhirnya. Sebab begitulah manusia. Dan aku adalah salah satunya.

Suatu waktu pernah kucoba untuk mengakhirinya saja, lalu aku berpikir untuk bunuh diri dan mati tiba-tiba. Tapi bila begitu maka aku tak ubahnya seperti sosok yang tak berarti sama sekali. Tak mampu menghadapi hidupku dan hanya bisa mati mengakhiri sesuatu yang belum lagi dimulai. Bila begitu maka aku tak ubahnya seperti seorang pengecut.

Hingga akhirnya aku memilih satu jalan yang bagiku adalah jalan terbaik. Aku melangkah setapak demi setapak, sambil sesekali memperhatikan petunjuk atau arah jalan yang kutuju. Bila nantinya aku menemui kesalahan, maka itu akan jadi sesuatu yang sangat wajar. Sebab semua manusia selalu melakukan kesalahan. Setiap manusia selalu memiliki kebodohan. Dan setiap manusia selalu melakukan penyesalan.

Memang jalan yang kutuju masih jauh sekali berakhir. Namun setidaknya aku telah berani mencoba dan berani meninggalkan kepengecutanku. Walau pun aku tak tahu kemana arahnya, walaupun aku juga tak tahu kapankah berakhirnya.



Saturday, July 30, 2005

Rayuan Rindu…

 
Wahai lelakiku...Aku selalu menantimu...Hadir di setiap mimpiku...
Wahai lelakiku...
Aku selalu menunggumu...Berbisik lembut dalam kalbuku...
Sebab aku sangat menginginkanmu,
Menemaniku melalui perputaran sang waktu...Mengharapkanmu,Merengkuhku dalam dekap pelukmu...
Aku akan selalu mengagumi sosokmu
Dan keanggunanmu saat memetik dawai emasmu...Aku akan selalu mengagumi auramuDan keindahamu di atas panggung megahmu...
Hingga sang dewa asmara mengabulkan inginku...
Hingga sang bayu berhembus membisikkan kata rindu...Hingga nanti saat kau tak hanya berlalu di depanku...Hingga nanti saat kau mengenali sosokku...
Aku akan selalu merindu bersama belai lembut sang bayu...
 
Saturday, July 30, 2005

SAYA PEREMPUAN, BUKAN BERARTI SAYA PERAWAN!

 

              Saya tidak pernah merasa harus mempertahankan keperawanan. Walau begitu bukan berarti saya adalah seorang wanita gampangan. Saya hanya merasa tidak wajib untuk menyimpan keperawanan. Sebab yang nantinya ada pada diri saya hanyalah kepalsuan. Seperti halnya wanita lain, saya pun juga pemuja keindahan. Bukan berarti saya harus memuja keutuhan dari selaput dara yang bagi para lelaki adalah harta terpandam. Saya tidak peduli dengan apa kata orang-orang. Yang saya pedulikan adalah ketidakmunafikan. Saya berkata dari dalam hati, bukan sekedar ucapan dari mulut semata. Sebab saya ingin jujur. Terutama pada diri saya sendiri.

            Saya perempuan, bukan berarti saya perawan. Entah dari segi mana keperawnan dinilai, setidaknya bagi saya selaput dara tak ubahnya seperti segel. Yang artinya bila barang itu milik saya, maka hak sayalah untuk memutuskan kapan akan membukanya. Dalam hal ini saya tidak bermaksud merendahkan diri saya sendiri atau kaum perempuan. Ini hanya pendapat saya.

            Kadang kala timbul dalam benak saya untuk bertanya, mengapa hanya perempuan yang memiliki selaput dara? Dan mengapa wajib bagi perempuan untuk mempertahankan keperawanannya? Buat apa perempuan harus mempertahankannya untuk lelaki yang akan dinikahinya, padahal belum tentu lelaki itu masih perjaka.

            Bodohnya kaum perempuan, karena tidak bisa membedakan lelaki yang masih perjaka atau yang sudah tidak lagi. Di sini saya mencaci kaum saya sendiri karena saya pun merasa bodoh. Bukannya seharusnya antara perempuan dan laki-laki seimbang? Seperti yang selalu digembar-gemborkan dalam televisi atau media cetak atau demonstrasi tentang hak asasi wanita. Sudah adil memang bila Tuhan menciptakan perempuan dengan vagina dan laki-laki dengan penis. Sudah adil bila Tuhan menciptakan perempuan dengan buah dada dan laki-laki dengan buah zakar. Namun tidak adil bila Tuhan hanya menciptakan selaput dara pada perempuan saja. Nah, sekarang yang ada saya malah menentang Tuhan. Maaf, Tuhan. Bukan maksud saya begitu, tapi setidaknya ini hanya unkapan saya saja. Bukankah saya berhak mengungkapkan apa yang ingin saya sampaikan?

            Kembali pada perkara keperawanan tadi. Kalau perawan berarti emas, lalu bagaimana dengan keperjakaan yang kasat mata itu? Sebab pada kasus-kasus lama selalu istri yang ketahuan sudah tidak perawan lagi yang akan dilecehkan. Lantas bagaimana para istri tahu kalau suaminya sudah tidak perjaka?

Bagi saya keperawanan hanya simbol dan itu tidak mutlak. Mungkin karena budaya yang menjunjung tinggi keperawananlah yang membuatnya terlihat begitu sakral dan suci. Bukankah seharusnya yang dilihat itu hati dan jiwanya. Sebab yang sering saya dengar begitu. Lihatlah perempuan bukan dari fisiknya, namun dari kecantikan dalamnya atau yang tren disebut inner beauty. Sekali lagi saya bertanya, bukankah selaput dara itu termasuk fisik karena bisa diraba?

            Entah kenapa dari tadi saya hanya menyatakan ketidakadilan melulu. Mungkin karena saya terlalu penasaran dengan jawaban-jawaban yang juga kasat mata seperti keperjakaan. Atau saya terlalu perfeksionis membela kaum perempuan? Sampai saat ini saya masih tidak mengerti.

            Saya perempuan, bukan berarti saya perawan. Namun bukan berarti saya perempuan gampangan. Keperawanan saya hanya saya berikan pada laki-laki yang benar-benar saya cintai dan saya percayai. Bila cinta saya mengusang, toh itu bukan halangan. Sebab samapai saat ini saya hanya bersenggama dengan satu laki-laki saja. dan itu kejujuran saya pada diri saya sendiri. Itu bukan suatu kemunafikan.


Sunday, July 31, 2005