Rabu, 02 Maret 2011

Saya Ingin Membunuhnya dalam Mimpi

Attacust
Terkadang saya bisa membenci orang dengan amat dalam. Saking dalamnya sampai rasanya ingin muntah tiap bertemu dengannya. Saking ingin muntahnya sampai rasanya ingin mematikannya seketika. Saking ingin mematikannya sampai rasanya takut yang tersisa. Itulah yang saya rasa padanya.

Sebuah kebencian yang mematikan. Sebuah ketakutan yang menekan. Siapa yang salah dalam hal ini? Dia yang menyebalkan atau saya yang ketakutan?

Lalu pada akhirnya saya hanya bisa membunuhnya dalam mimpi. Sebab tak ada cara lain yang pasti. Sebab selain bermimpi pun saya tak berani.

Terkadang saya bisa mencinta orang dengan amat dalam. Saking dalamnya sampai rasanya tak ingin berpisah tiap bertemu dengannya. Saking tak mau pisahnya sampai rasanya ingin mati saja. Saking ingin matinya sampai rasanya takut yang tersisa. Itulah yang saya rasa padanya.

Sebuah percintaan yang mematikan. Sebuat ketakutan yang menekan. Siapa yang salah dalam hal ini? Dia yang menyebalkan atau saya yang ketakutan?

Lalu pada akhirnya saya hanya bisa membunuh diri saya dalam mimpi. Sebab tak ada cara lain yang pasti. Sebab selain bermimpi pun saya tak berani.

Antara benci dan cinta sama-sama berakhir dengan mati. Bukan karena keduanya memang saling bertarikan dengan kematian, tapi karena saya memang gila dengan kematian. Gila karena takut mati. Gila karena terkadang saya ingin mati.

Dokter bilang saya punya masalah yang namanya deathphobia. Lalu kembali saya renungkan, tak ada salahnya dengan masalah kejiwaan yang saya derita ini. Sebab hampir semua orang merasakannya. Bahkan dokter saya pun tak menyangkal kalau dia pun memiliki masalah yang sama.

Cerita klasik tentang masalah klasik. Hanya orang sakit jiwa saja yang mau membacanya pun menulisnya. Itu artinya Anda dan saya sama-sama sakit jiwa!! Terimakasih untuk mengakuinya


September 1st, 2007

Aroma sang Malam

 

Selalu saya rasakan harum dan memabukkannya aroma sang malam merasuki…bahkan di tengah-tengah tidur saya pun semerbak itu datang menghantui, datang memenuhi tiap sela dalam ingatan diri ini…

Selalu saya cari aroma yang sama dalam kehangatan hari…bahkan di antara berjuta sosok berhamburan yang mengering dalam tumpukan daun dan tanah pun tak saya temui, dalam genangan darah tiap kematian pun tak saya dapati…

Hingga pada akhirnya saya mulai menjadikannya sebagai candu jiwa… saya mabuk olehnya… saya terlena… kemudian saya menggila karenanya…

Aroma sang malam yang jantan dan perkasa… aroma yang memberi sebersit kelembutan pada sisi jiwa saya… aroma yang juga menyatukan sel-sel tubuh saya dan membuat saya terbangun dalam tiap mimpi untuk menikmati indah hembusnya…

Aroma itulah yang membangunkan keegoisan saya… menarik sisi liar saya untuk terus memujanya… dan saya pun jatuh terluka karenanya…

Hingga pada akhirnya saya mulai menjadikannya sebagai racun… saya tersiksa olehnya… saya terluka… kemudian saya mati karenanya…

Bagai sebuah anugerah yang membawa musibah… begitulah aroma sang malam membuat saya bertulah… Dan yang tersisa dari saya hanya sosok yang membuat jengah… begitulah aroma sang malam membuat saya bagai sampah… Dan akhirnya jiwa saya pun memusnah… sudah…


December 17th, 2006

Biarkan Saya Menikmati Kepengecutan Saya

Tuhan…biarkan saya tersenyum saat melihat tawanya…atau biarkan saya tersipu saat mendengar suaranya…setidaknya walau hanya begitu, saya sudah merasa bahagia…

karena kemarin dia memberikan saya tawa dari kejauhan…dia mengingat nama saya walau sejak lama saya tak berani menyapanya…dia memberi saya debaran dalam dada…

Tuhan…biarkan saya menikmati jatuh cinta padanya…atau biarkan saya sekedar jadi pengagumnya saja…setidaknya walau hanya begitu, saya sudah merasa lega…

karena tiap kali saya membayangkan wajahnya, saya terlena dan tak kuasa menahannya…tiap kali saya memimpikan kebersamaan dengannya, saya terluka karena kepengecutan saya…seandainya saya memiliki keberanian untuk mencintainya…

Tuhan…biarkan saya mengagumi ketampanan sosoknya…atau biarkan saya sekedar bersyukur karna Kau menciptakannya…setidaknya walau hanya begitu, saya sudah merasa gembira…

karena kehadirannya bagai setitik khayalan dari nirwana…hingga membuat saya tak berarti di depannya…namun saya tak mampu mengenyahkan bayangannya dari benak saya…
untuk itu, Tuhan…biarkan saya menjadi benalu atas keberadaannya…sebab hanya dengan melihatnya saja saya sudah bahagia…

Tuhan…biarkan saya menikmati kepengecutan saya…

 

August 11th, 2006

Sepertinya sebentar lagi saya mati…

Kacung saya suka sekali bercerita…ceritanya macam-macam…dari yang lucu sampai yang nestapa…membikin saya ketawa bahkan menangis tersedu…Kacung saya memang agak gila…

Kacung saya suka sekali bercanda…candanya macam-macam…dari soal politik sampai agama…membikin saya pusing dan prihatin…Kacung saya sudah mulai sedikit lebih dari sekedar agak gila…

Suatu waktu kacung saya tertawa tanpa alasan…tertawa terbahak-bahak sampai meneteskan air mata…saya jadi kuatir dibuatnya…Sepertinya kacung saya semakin menggila saja…

Suatu waktu kemudian, kacung saya menangis tanpa alasan…menangis tersedu-sedu sampai napasnya tersengal-sengal…saya makin kuatir padanya…Sepertinya kacung saya sudah benar-benar gila…

Pagi ini saya mengajak kacung saya berbicara dari hati ke hati…saya harap dia mau berhenti gila lalu kembali normal seperti biasa…tapi pada akhirnya dia malah menangis-nangis di depan saya…kali ini saya takut dibuatnya…kacung saya makin parah gilanya…

Hingga akhirnya saya jadi makin takut dan kalut…lalu mendadak terbersit ide gila di benak saya…harus saya lakukan demi kebaikan kacung saya yang tiap harinya makin bertambah parah gilanya…


 ***************************

Majikan saya suka sekali bercerita…ceritanya macam-macam…dari yang lucu sampai yang nestapa…membikin saya ketawa bahkan menangis tersedu…Majikan saya memang agak gila…

Majikan saya suka sekali bercanda…candanya macam-macam…dari soal harga sayuran sampai pajak penghasilan…membikin saya pusing dan prihatin…Majikan saya sudah mulai sedikit lebih dari sekedar agak gila…

Suatu waktu majikan saya tertawa tanpa alasan…tertawa terbahak-bahak sampai meneteskan air mata…saya jadi kuatir dibuatnya…Sepertinya majikan saya semakin menggila saja…

Suatu waktu kemudian, majikan saya menangis tanpa alasan…menangis tersedu-sedu sampai napasnya tersengal-sengal…saya makin kuatir padanya…Sepertinya majikan saya sudah benar-benar gila…

Pagi ini majikan saya mengajak  berbicara dari hati ke hati…saya harap dia ingin menghentikan kegilaannya lalu kembali normal seperti biasa…tapi pada akhirnya dia malah berteriak-teriak memaki saya…kali ini saya takut dibuatnya…majikan saya makin parah gilanya…

Majikan saya suka sekali berteriak-teriak…teriakannya macam-macam…dari geraman hingga caci-maki…membikin saya tertekan hingga merasa ngeri…

Hingga akhirnya saya jadi makin takut dan kalut…sudah saya coba banyak hal agar majikan saya senang…tapi mendadak kegilaan majikan saya makin bertambah parah…Majikan saya kini tak hanya berteriak atau memaki…

Majikan saya suka sekali memukuli saya…alat pukulnya macam-macam…dari sapu sampai kursi…membikin saya memar hingga patah tulang…Majikan saya seperti setan…

Majikan saya suka sekali menyiksa saya…siksaannya macam-macam…dari guyuran air panas hingga pisau dapur yang kini bersarang di perut saya…Majikan saya seperti setan gila yang hilang kendali…sepertinya sebentar lagi saya akan mati…dan semua akan terhenti sampai di sini…

June 13th, 2006

Bagimu Perempuanku…

      Bagimu perempuanku… kan kuberikan cinta dan seluruh hidupku… kan kupersembahkan keindahan pada sinar auramu… sebab tanpamu aku hanya seonggok bebatuan semu… tanpamu aku hanya secuil dedaunan layu…
      Bagimu perempuanku… kan kusematkan bulan dalam kilau matamu… kan kutebarkan bintang pada lembut senyummu… sebab tanpamu aku mati kaku… tanpamu aku terbelenggu bisu…
     Bagimu perempuanku… kan kulewati seribu waktu menumpu… kan kujalani dinginnya malam membeku… sebab denganmu aku mampu menyempurnakan jiwaku… denganmu aku mampu melengkapi rinduku…
      Bagimu perempuanku… cumbu aku bersama syahdumu…


January 15th, 2006

Sajak Untuk Sang Malam

 


Aku terhempas lepas diantara tumpukan lembut salju-salju putih,
saat lembut sapuan jemarimu tak ada lagi di sampingku. 
Lalu aku tersadar diantara dinginnya sang malam yang makin jauh bersama pekatnya.
Aku ternggelam bersama badai waktu yang mengganas menebas peluh-peluhku yang kian deras.
Aku terjatuh jauh… saat sang malam kian menghilang.
Satu diantara detik yang berjalan makin cepat menebarkan duri-duri panas berapi yang perih menggores ujung-ujung kulitku dan aku terluka bersama deritaku.



January 2nd, 2006

SEBUAH PERCINTAAN

 


            Suatu waktu ketika langit mendung kelabu… malam mengaku dengan seribu ragu yang bertumpu… malam terpaku oleh berjuta bintang-bintang layu… malam begitu sayu… malam begitu pilu…

            Malam telah mengakhiri percintaannya dengan sang siang… percintaan yang telah mereka jalin dengan benang panjang… pencintaan yang pada akhirnya hanya tinggal sebuah kenang… percintaan antara sang malam dan sang siang…

            Syahdan ketika semua seharusnya terlihat indah… sang siang malah menengadah mengagumi sosok yang lebih mewah… sang siang terpesona oleh aura senja yang terlihat amat megah… lalu yang tersisa diantara sang malam dan sang siang hanyalah sebuah kisah…

            Dalam beku malam membisu… dalam bisu malam merindu… dalam rindu malam tersedu…

            Hadirnya sebuah percintaan diantara mereka telah membawa luka… hadirnya sebuah percintaan diantara mereka telah membawa duka… hadirnya sebuah percintaan diantara mereka telah mengusir suka…

            Sang malam harus bisa menerima semuanya… melebur rasa cintanya… mengubur kenangan manisnya… menyembuhkan derita pahitnya… memulai hidup barunya…

            Dalam beku malam membisu… dalam bisu malam merindu… dalam rindu malam tersedu…

            Sebab kini sang siang bukan lagi miliknya… sang siang bukan lagi kekasihnya… sang siang bukan lagi bagiannya… dan sang siang tak lagi mencintainya…

            Sebuah realita yang menghimpit… sebuah kisah cinta yang sulit… sebuah petaka yang berbelit… sebuah percintaan yang pahit…


            Namun terimalah… sebab sang siang tak mampu lagi untuk mengalah… sang siang tak bisa lagi untuk berpasrah… sang siang telah lama lelah… Sebuah percintaan ketika sang malam harus mengaku kalah… sebuah percintaan dimana cinta berakhir musnah…






(1 Januari 2006)