Rabu, 02 Maret 2011

Sayangku…

 



Sayang… saya mencintaimu karena saya memang menginginkannya. Bukan karena saya jatuh hati, atau karena cinta pada pandangan pertama. Namun, karena saya memang benar-benar menginginkannya.


Sayang… kau adalah lelaki ke-30 yang telah saya cinta. Melalui hati, melalui pikiran, melalui jiwa. Karena saya memang menginginkannya. Bukan karena saya merasa harus, atau karena saya terpaksa. Namun, karena saya memang benar-benar menginginkannya.


Sayang… selama tigapuluh bulan ini saya telah menjelajah banyak hati dari kaummu. Dan saya merasa sangat mengharapkanmu. Karena saya memang menginginkannya. Saya mencintaimu. Dan itu yang saya mau.


Sayang… biarkan saya tetap merasakannya. Sebab saya menyukainya. Saya menikmatinya. Saya ingin mempertahankannya. Namun saya enggan memilikinya.


Sayang… cinta itu kejam, cinta itu jahat, cinta itu licik. Cinta selalu membawa kita pada piriran-pikiran yang picik. Selalu membuat kita menderita dalam tiap-tiap detik. Selalu membuat kita haus akan kasihnya yang hanya setitik.


Sayang… saya mencintaimu karena saya memang menginginkannya. Bukan karena tak sengaja. Bukan karena tiba-tiba. Namun karena saya memang benar-benar menginginkannya juga karena saya sangat takut akan deritanya.





(Jogja, 1 November 2005)

Tentang Lelaki

 


Lelaki adalah sosok terindah yang diciptakan Tuhan. Dimulai dari tiap lekuk tubuhnya… hingga perangai-perangainya. Sangat indah hingga membuat saya selalu terpana. Atas ciptaan-Nya yang satu ini saya sangat bersyukur.


Lelaki dari berbagai macam jaman. Lelaki dari berbagai macam bentuk. Lelaki dari berbagai macam warna tubuh. Atau pun lelaki dari berbagai macam negeri. Saya sangat mengaguminya. Saya sangat memujanya.

Lelaki adalah sosok terindah yang dicipkana Tuhan. Sebab lelaki selalu megah dengan kuasa-kuasanya. Selalu menawan dengan tingkah-lakunya. Selalu rupawan dengan auranya. Atas ciptaan-Nya yang satu ini saya sangat bersyukur.


Karena lelakilah saya ada. Juga karena lelakilah saya merasakan orgasme saat bercinta. Karena lelakilah saya menjadi seorang pemuja. Saya sangat menyukainya. Saya sangat mencintainya.


Lelaki selalu mebuat dada saya berdegup kencang. Lelaki selalu membuat keringat saya mengucur deras. Lelaki juga selalu membuat saya merintih nikmat saat sedang bercumbu. Saya sangat menginginkannya. Saya sangat mengharapkannya.


Lelaki adalah sosok termewah yang diciptakan Tuhan. Sebab tanpa lelaki saya takkan lengkap. Tanpa lelaki saya bukanlah apa-apa. Dan tanpa lelaki saya adalah kematian. Atas ciptaan-Nya yang satu ini saya sangat bersyukur.


Tuhan, terima kasih karena Kau menciptakan Adam di samping Hawa. Terima kasih karena kau menciptakan saya di antara lelaki. Terima kasih karena kau membuat semuanya nyata.






(Jogja, 1 November 2005)

Untuk kekasih…



Kekasih……
Saya ingin terbang bersamamu……
Mengepakkan sayap-sayap mungilku……
Menapaki awan-awan rindu……

Kekasih……
Saya ingin bercinta denganmu……
Memeluk erat kekar tubuhmu……
Menikmati kehangatan aura sukmamu……

Kekasih……
Saya ingin terus mencintaimu……
Mengalunkan debaran jantung dengan merdu……
Mempersembahkan seluruh hidupku padamu……

Kekasih……
Saya ingin selalu memujamu……
Sebagai makhluk terindah di mataku……
Sebagai sosok termegah di hatiku……

Kekasih……
              Kekasih……
                            Kekasih……
                                          Saya ingin merengkuhmu……
                                                       Menyatukan diri denganmu……
                                                                     Walau saya tak pernah memilikimu……
                                                                                   Walau saya enggan memilikimu……


(Jogja, 25 Oktober 2005)

Maka Ijinkan Saya Menikmatinya………

             Sering kali saya merasakan cinta. Bukan hanya sekali atau duakali saja. Namun tak juga saya merasa jera. Padahal cinta selalu membawa saya pada derita. Cinta selalu membawa saya pada luka. Walaupun terkadang penuh dengan bunga-bunga asmara, tapi ada kalanya berbuah duka. Dan tak juga saya merasa jera.


            Seandainya kau tahu…kau adalah salah satu pembawa rasa itu. Kau bagaikan secercah indah warna biru. Namun juga duri yang sering kali menusuk kalbu. Kau yang membuat saya termangu… membuat saya merindu… juga membuat saya layu.


Karena itulah saya mempertahankannya. Agar saya bisa mempertahankan nyawa. Agar saya bisa tetap berkarya. Juga agar saya bisa menikmatinya.


         Saya pernah bercerita tentang kemuakan saya pada cinta. Dan semua itu benar adanya. Sebab ketika saya terluka begitu dalamnya, maka kemuakan itu hadir mengisi relung jiwa saya. Namun saya tak juga merasa jera. Sebab ada kalanya saya membencinya. Ada pula kala ketika saya benar-benar kecanduan olehnya. Padahal semua dukanya selalu membawa saya pada nestapa. Dan tak juga saya merasa jera.


            Bila saja kau tahu… kau adalah salah satu pembawa cinta itu. Kau bagaikan alunan merdu sebuah lagu. Namun juga racun yang sering kali membuat lidah saya kelu. Kau yang membuat saya tercandu… membuat saya meragu… juga membuat saya rindu.


            Karena itulah saya mempertahankannya. Agar saya bisa mempertahankan nyawa. Agar saya bisa tetap berkarya. Juga agar saya bisa menikmatinya.



            Tiap kali saya bernapas, maka tiap kali pula saya merasakan hadirmu dalam tiap aliran udara. Tiap kali saya terluka, maka tiap kali pula saya menemukanmu dalam tiap goresan perihnya. Tiap kali saya merasakan suka, tiap kali saya merasa duka. Kau selalu merasuki jiwa saya.


            Yang saya inginkan adalah kehadiranmu dalam tiap mimpi saya. Keberadaanmu dalam tiap hembusan napas saya. Keindahanmu yang membuat saya terpesona. Keangkuhanmu yang saya suka. Sebab saya menikmatinya. Saya sangat menikmatinya.


            Menikmati tiap warna yang kau torehkan. Menikmati tiap duri yang kau tusukkan. Menikmati tiap lagu yang kau alunkan. Menikmati tiap tetes racun yang kaualirkan. Menikmatinya hingga saya benar-benar dimabuk angan-angan.

            

            Kehadiranmu telah menelanjangi saya dalam rasa cinta. Kehadiranmu telah melacurkan saya dalam rasa hina. Namun, karenamulah saya memuja segalanya. Maka ijinkan saya menikmatinya…








(Jogja, 25 Oktober 2005)

Kepada Sang Waktu…

kepada sang waktu inginku bercerita…
tentang sesosok pria yang kupuja…
tentang hati ini yang telah lama tergoda…
tentang cinta…dan hanya cinta…

kepada sang waktu inginku meminta jeda…
agar debaran ini tak lagi terasa…
agar jiwa ini tak lagi gulana…
agar tentram…dan hanya tentram…

kepada sang waktu inginku bercinta…
dengan pria yang berbeda…
dengan cumbuan yang tak sama…
dengan siksa yang kusuka…dan hanya siksa yang kusuka…

kepada sang waktu inginku bertemu…
ketika malam tak lagi termangu…
ketika jiwaku tak lagi membeku…
ketika kisah cintaku tak lagi layu…

sebab hanya kaulah yang mampu…
membawanya ke sisiku…
mengikatnya pada auraku…
menghentikan perputaranmu…

hingga pria itu menoleh padaku…
pria itu mulai mengenalku…
pria itu mulai memahami cintaku…
lalu pria itu mulai membuka hatinya untukku…

kepada sang waktu inginku tetap begini…
walaupun jiwa terasa pedih dan sunyi…
walaupun kau menusukkan berjuta duri…
walaupun hanya dalam mimpi…dan hanya dalam mimpi…

sebab saya jatuh hati…
sebab saya cinta mati…

 

October 25th, 2005

Saya Benar-benar Dimabuk Lelaki…

        Semalam saya memimpikannya lagi… kali ini dia terlihat lebih nyata dan lebih hangat. Tubuhnya yang gagah… membuat saya memimpikan cintanya yang megah… wajahnya yang cerah… membuat saya memimpikan pagi yang indah…

        Ketika saya mencoba membayangkan wajahnya… mendadak saya merasakan sengatan cinta… namun ketika saya membayangkan tubuh indahnya… yang saya rasakan adalah pelukan hangatnya yang bahkan untuk terangsang pun saya tak tega. Sebab saya benar-benar sedang dimabuk lelaki!!

        Cinta yang gila itu membuak perangai saya berubah seketika. Saya yang tadinya tak punya malu… tiba-tiba memerah saat bertemu pandang. Saya yang tadinya bergaya seenaknya… tiba-tiba berubah kalem ketika melihatnya di dekat saya. Saya sebenarnya tidak suka jatuh cinta. Sebab dengan merasakannya berarti saya akan menjadi orang lain yang bukan saya lagi. Saya tidak mau itu terjadi. Tetapi, setelah berkali-kali saya merasakannya… saya pun mulai kecanduan!! saya ingin lagi… lagi… lagi… dan lagi… saya mulai ketergantungan. Saya benar-benar dimabuk lelaki!!
       
        Ketika saya mencoba membayangkan bibirnya yang tebal… mendadak saya merasakan panggutannya yang kenyal… namun ketika saya mencoba membayangkan sentuhan tangannya… yang saya rasakan adalah rindu yang kental… Saya benar-benar dimabuk lelaki!!

        Untuk sang lelaki yang memabukkan saya… berikan candumu pada saya!! Agar saya bisa bertahan hidup walau hanya dengan memandangimu saja. Walau sepatah kata pun kita tak pernah saling berucap satu sama lain… Keindahan dan kemegahanmu membuat saya merasa hina di depanmu, namun sekaligus membuat saya merasa sangat pantas menjadi bagian dari hidupmu…

        Untuk sang lelaki yang memabukkan saya… sadarlah bahwa saya benar-benar tengah dimabuk oleh pesonamu… dimabuk oleh kelaki-lakianmu. Sedemikian mabuk hingga saya berubah menjadi sosok yang sangat perempuan. Sedemikian mabuk hingga saya berubah menjadi pemujamu… Sangat mabuk hingga saya berubah menjadi bidadari pencinta…

        Sebab saya benar-benar sedang dimabuk lelaki… maka ijinkan saya untuk tak memungkiri…

 

October 15th, 2005

Dia Hanya Masturbasi Saja…

        Langit kemarin malam terlihat indah… penuh dengan pernak-pernik bintang yang megah… kini yang Julia rasakan dalam dada adalah gundah… dia merasa dalam hatinya ada yang salah… walau pada akhirnya dia hanya bisa pasrah…

       Ketika sedang sendirian, Julia mulai berkhayal macam-macam… Mengkhayalkan sosok idamannya… Menghkhayalkan kehangatan tubuh lelaki perkasanya… Kemudian Julia tak kuasa lagi menahan diri untuk tidak menggesekkan kemaluannya pada bantal… Julia sedang gila cinta dan dimabuk birahi…

        Kembali dia mengingat-ingat malam itu… Ketika lelakinya memberikan senyuman padanya… ketika lelakinya mengucapkan sapaan pertamanya… ketika lelakinya membalas emailnya… Julia tergetar dan terisak antara haru dan bahagia… padahal dalam kasus ini seharusnya dia bahagia seperti perempuan-perempuan lainnya yang akan ketawa-ketiwi tanpa sebab, yang akan menyebut-nyebut nama lelaki mereka… Namun Julia sangat berbeda… yang dia inginkan bukan hanya cinta saja… Julia juga menginginkan raga yang saling menyatu padu…

       Dalam isak tangisnya Julia tersenyum… hingga pada akhirnya dia mengerang senang… dia telah mendapatkan orgasmenya… Julia puas. Walau bercinta tanpa lelakinya… walau bercinta hanya dengan bantal… walau dia hanya masturbasi saja… dan baginya itu tak mengapa.
        Dua malam kemudian Julia berjumpa dengan lelakinya. Bukan pertemuan yang tak disengaja… sebab Julia memang sengaja ke tempat kerja lelakinya sambil berpura-pura hendak menyewa film. Dan pada akhirnya percakapan pun dimulai. Julia dan lelakinya tengah berbasa-basi mengenai film box office. Beberapa menit kemudia mereka berbicara tentang kuliah. Lalu malam pun terlalu larut hingga dengan terpaksa lelakinya menawarinya pulang bersama. Julia sangat bahagia… tak-tiknya berhasil pada langkah pertama.

        Langkah keduanya sedang dipertimbangkan… sebab Julia takut lelakinya akan menolak dan menganggapnya sebagai perempuan gampang. Padahal bukan begitu… Julia hanya mau bercinta dengan lelaki yang dicintainya saja. Julia masih perawan walau hampir tiap malam dia masturbasi. Pikiran Julia melayang jauh pada kemungkinan-kemungkinan yang bisa saja terjadi. Baru kali ini Julia jatuh cinta. Julia jatuh cinta pertama kali di usianya yang ke duapuluh dua. Lalu kemana saja hatinya selama ini?

       Kegagalan pada langkah kedua pun terjadi… Julia tak berani. Bukan karena dia perempuan lalu dia takut memulai. Namun karena dia benar-benar cinta pada lelakinya dan takut kehilangan kesempatan untuk kedekatan yang lain. Lalu kembali seperti sedia kala… seperti malam-malam biasanya… Julia bercinta dengan bantal… seorang diri di kamar kostnya. Dia hanya masturbasi saja.
        Kawan-kawannya selalu bilang kalau Julia gila. Bukan gila yang sebenarnya, namun gila dalam artian yang biasa dicandakan oleh anak-anak muda pada umumnya. Mereka bilang Julia gila karena Julia terlalu mengagumi lelakinya… mengagumi tubuh gagahnya… mengagumi wajah maskulinnya… mengagumi cara berjalannya… mengagumi cara bicaranya… mengagumi segalanya yang dimiliki lelakinya… dan sayangnya lelakinya tak pernah tahu dan tak pernah menyadarinya. Sebab bagi lelakinya Julia hanya teman biasa. Teman kampus saja. Teman kampus yang pernah mengirimi email tentang solidaritas remaja kampusnya. Tak lebih dari itu.

        Lelakinya tak pernah tahu apa yang biasa Julia pikirkan… apa yang biasa Julia harapkan… Apa yang biasa Julia khayalkan ketika sedang masturbasi di kamar kostnya… bahkan tentang masturbasi pun lelakinya tak pernah akan menyangka. Sebab hanya Julia yang tahu… hanya Julia, bantalnya, dan dinding putih kamar kostnya saja yang tahu…Tak mengapa bagi Julia sebab dia hanya masturbasi saja… 

        Lalu kembali seperti sedia kala… seperti malam-malam biasanya… Julia bercinta dengan bantal… seorang diri di kamar kostnya. Dia hanya masturbasi saja… dan baginya itu tak mengapa.

 

October 13th, 2005