Kamis, 31 Agustus 2017

Kau yang Bukan Dia

Kau yang ada untuk menjadi penggoda..
Atau aku yang ada untuk mudah tergoda..

Antara kau dan aku entah ada takdir atau tidak..
Hanya getaran yang membuatku bergidik senang saat membayangkan tubuh dan aromamu..

Antara kau dan aku entah mungkin atau tidak..
Hanya khayalan tentangmu yang akhir-akhir ini selalu datang dalam sendiriku..

Kau yang bukan dia..
Sebab kau bukan milikku dan aku bukan milikmu..
Hanya terbiasa dan saling menggoda..
Hingga tiap malam bercinta dengannya kau hadir dalam maya..

Dan kau tetap bukan dia..
Namun tak apa jika sesekali kau menjadi dia..
Dalam khayalku saat bercinta dengannya, maka kau ada..

Senin, 27 Februari 2017

Cinta pada Ketiadaan

Bagaimana mungkin kita bisa mencintai suatu ketiadaan?

Bagaimana mungkin kita bisa bercumbu dengan cinta?

Bila yang terjadi saat ini adalah kau pergi, aku sendiri. Dan cinta malah mulai menggerogoti hatiku macam kutu busuk di kasur tua kita.

Lagi-lagi permainan hati membuat manusia menjadi setengah gila. Dan kau pergi, aku sendiri. Tapi getaranmu tak kunjung menghilang dari dadaku.

Bagaimana mungkin kita bisa mencintai suatu ketiadaan?

Sebab kau fana dan aku nyata. Kau mimpi dan aku kini. Kau kau kau.. Aku aku aku..

Cinta, gila. Gila, cinta.
Ada tiada. Tiada ada.
Bagaimana mungkin?

Sabtu, 04 Agustus 2012

Where should I go now?

Maka sekarang hidup saya bermulai dari awal. Menjadikan angka-angka sebelumnya lebur dan kembali ter-restart 'nol'. Jika di lagu lama itu tersyairkan 'pulangkan saja aku pada ibuku atau ayahku' maka saya pulang kepada kesendirian. Sebab tak mungkin lagi saya menggantungkan diri pada ibu saya.

Pernah tersirat dalam cerita saya sebelumnya tentang ibu saya yang berjuang demi 4 orang anaknya. Sendirian sebab bapak saya sudah lama meninggal dunia. Jadi, sangat tidak mungkin saya bergantung pada ibu saya yang kian tahun kian renta namun masih harus bekerja demi hidupnya sendiri.

Saya memang pulang kembali ke rumah kami, namun hidup saya tetap menjadi tanggungan saya sendiri. Bisnis saya dimulai lagi dari nol. Dan percintaan saya pun kembali ke awal dengan pria yang jauh berbeda.

Saat di titik terendah, kadang saya berpikir untuk menyerah. Namun, saya sudah melangkah mendekati setengah. Terlalu percuma untuk berhenti dan menyerah. Tetap harus berjalan. There's no way back.

Beberapa kawan yang menjalani perceraian masih bisa nyaman dengan orang tua mereka yang sangat cukup. Tidak demikian dengan saya. Bukan. Saya bukan iri. Hanya sedikit mengeluh saja. Sebab saya manusia normal yang ada kalanya butuh mengeluh.

Maka di sini saya. Bercerita pada anda yang sesungguhnya bukan sekedar cerita, namun lebih bersifat keluhan. Saya sedikit lelah menjalani ini. Dan saya berpikir untuk mengubah sedikit target saya.

Tidak salah, kan jika saya mendamba pengayoman dari orang lain? Saya ingin segera menikah lagi. Dengan orang yang baik dan bertanggung jawab. Sebab sepertinya berjalan sendirian cukup melelahkan saya.

Tak perlu kaya raya, saya hanya ingin ada orang yang selalu ada saat saya butuh pelukan. Orang yang menenangkan saya tentang hari esok, yang sekarang masih saya khawatirkan. Orang yang berkata, "tenang, sayang. Besok kita masih tetap bisa makan." Bahkan orang yang bisa bermimpi bersama saya.

Bersamanya saya akan merencanakan banyak hal untuk masa depan kami. Tentang rumah impian, mobil impian, bahkan nama anak yang mungkin akan kami miliki nanti. Mimpi yang membuat kami sama-sama berjuang. Bersama dengannya saya tak perlu takut lagi tentang ancaman hutang dan kehilangan. Bersama dengannya saya akan tenang.

Dan bersamanya saya juga akan mengasuh pria kecil saya yang lucu. Jangan berpikir pria ini hanya dalam mimpi. Sebab saya masih optimis akan ada pria sebaik ini yang mau mengambil saya berpaket dengan anak saya.

Jadi haruskan saya kesana? Atau tetap berjalan sendirian?


Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Minggu, 22 April 2012

I Love You Today..

Aromamu kembali tercium samar-samar, saya mabuk. Dalam bayangan yang terlintas jelas bak tampilan tv LED tercanggih abad ini, saya bisa melihatmu tersenyum. Menatap mata saya teduh. Maka saya tahu bahwa saya mencintaimu. Entah sampai kapan ataupun sejak kapan, saya tak peduli. Yang jelas dan pasti, detik ini saya mencintaimu.

Walau-walau yang terlampir dalam cinta saya padamu cukup menguatkan saya, bukan melemahkan seperti kebanyakan orang. Walau kau sering kali membuat saya terjengkelkan oleh ketidakpekaanmu itulah cinta saya makin kuat. menyadarkan saya bahwa kau pun manusia seperti pula saya. Dengan banyak walau yang saya punyai, saya pun ingin kau makin kuat mencintai saya.

Lalu sayang, bisakah kita menikmati hari ini hanya sebagai hari ini saja. Sebab esoknya nanti, hari ini hanya akan jadi masa lalu. Dan biar esok jadi tanda tanya bagi kita berdua. Misteri yang kita nanti tiap harinya. Kejutan entah cinta makin menguat atau banyak goda yang menjegal di antaranya. sebuah to be continued yang kita nantikan dengan harapan-harapan kita. Sudahlah. Kita bercinta hari ini saja. Biarkan esok bercerita tentangnya esok saja.

Jika esok masih menginginkan kita, maka biarkan hari ini menjadi kenangan penguat cinta kita. Namun jika esok mengnginkan kita berderai air mata, maka hari ini akan menjadi kenangan terakhir cinta kita. Bukan saya enggan berharap pada esok. Saya hanya ingin menikmatinya saja. Bukan membebaninya dengan apa yang belum terjadi. Saya hanya ingin merasainya saja. Bukan menggalaukannya dengan apa yang belum saatnya terlintas.

Sudah jelas kan sayang? Saya mencintaimu dengan beragam walau darimu. Hari ini. Entah sejak kapan dan sampai kapan.

Senin, 05 Maret 2012

Extraordinary Me

Suatu peristiwa baru-baru ini menggugah saya pada masa lalu yang sangat ingin saya kubur dalam-dalam. Terlalu pedih dan menyakitkan hingga saya tak dapat lagi melupakan tiap detailnya. Dan beginilah saya dulu.

Duduk menyudut dengan posisi kaki menekuk melindungi badan saya. Menangis dengan posisi wajah menunduk di kedua lutut saya. Takut. Pedih. Luka. Marah. Tersingkir. Tertekan. Benci. Menjadi satu bercampur dalam benak saya saat itu. Why? Itu saya saat hanya bisa diam dan tak mampu membela diri saya. Itu saya saat orang yang bahkan sangat saya harapkan memilih untuk tidak melindungi saya.

Dan saat itu saya yang sedang mengandung anak semata wayang saya pun hina dan tak pantas. Karena apa? Karena keberadaan saya yang menurut mereka entah mengganggu atau sasaran empuk limpahan emosi para ipar saya. Ya. Ipar saya. Maaf, maksud saya mantan ipar saya.

Ketika kehamilan membuat saya banyak tidur dan lemah dengan tekanan darah yang turun drastis, mereka menganggap saya pemalas yang tidak produktif. Namun tidak pedulilah mereka bahwa ada suatu masa di mana saya duduk membungkuk memotongi lembar demi lembar kertas agar terbentuk kartu nama demi lima ribu rupiah tiap kotaknya yang tak pernah saya dapatkan dari mantan suami saya. Mereka hanya mau melihat yang buruk bagi mereka dan menutup mata akan apa yang saya perjuangkan.

Bersama-sama mereka mengata-ngatai saya di luar sana. Mantan suami saya tak sedikitpun membela saya. Menurutnya, mereka lebih tua dan tak patut dicela. Maka celakalah saya.

Hampir sama dengan belasan tahun sebelumnya saat saya meringkuk dengan campuran perasaan yang sama jauh di kolong tempat tidur. Karena apa? Karena mantan ayah tiri saya yang sedikit-sedikit melimpahkan amarahnya pada saya dengan pukulan-pukulannya di wajah saya. Lalu pantaskah saya diperlakukan demikian? Pantaskah saya dibiarkan sedemikian rupa terpuruk tanpa pembelaan?

Bahkan sampai detik ini saya sangat membenci orang-orang ini. Mereka yang sudah menguras air mata saya. Melukai. Menekan. Menyiksa. Mencela. Memaki. Menjadikan saya sand-sack tinju mereka. Bukan salah saya jika maaf bagi mereka masih terlalu jauh.

Lalu dengan menulis ini, semua luka saya kembali datang satu persatu. Menyakitkan. Membuat saya terdiam dan bersyukur saya bisa melewati semua itu dengan hebat. That's why I'm an extraordinary.

Rabu, 01 Februari 2012

Let me be a human just once..

Berat karena banyak yang harus saya selesaikan hari ini. Berat karena banyak yang menuntut saya untuk ini dan itu di hari ini. Lalu berat karena saya mengingatmu yang tiap saya merasa begini kau selalu ada untuk meringankan saya dengan keluh kesah saya.

But then I realized. Saya sudah memutuskan untuk berdiri sendirian. Maka keluh kesah saya pun melanting pada orang lain, yang sepertinya berat menerima keluh kesah saya. Hingga akhirnya saya hanya bisa menangis. Menyadari bahwa sisi manusiawi saya nampaknya masih terlalu manusiawi untuk menjadi malaikat. But, I'm not an angel. Sekali-kali tak mengapa mengeluh. Sekali-kali tak mengapa menangis.

But then I all alone. Bukan karena saya tak memiliki kawan. Namun karena hanya dengan sendiri saya merasa jadi manusia normal. Too much pressure today. Let me be a human just once. 

Senin, 12 Desember 2011

Cerita Tentang Pernikahan Saya

Awal menikah saya sudah hamil duluan, saya mendapat banyak perlakuan tidak menyenangkan dari mertua dan ipar saya. Saat itu suami saya tidak bekerja dan terpaksa apapun saya kerjakan demi sedikit uang untuk memenuhi hidup saya. Bagi saya hal tersebut tidak terlalu berat karena dari kecil saya sudah dididik untuk ulet mencari uang. Dan usaha kecil saya yang bermodal menjual hp untuk membeli printer pun saya tekuni. Saya membuat kartu nama. Harga per box 25ribu dengan untung bersih 5rb. Bahkan dengan perut besar saya memotongi lembaran kertas agar jadi seukuran kartu nama, sementara suami saya tidur-tiduran atau main game.

Lalu saat suami saya mendapat pekerjaan dan memperoleh gajinya yang pertama, saya diberinya uang sebesar 50ribu sebulan. Hingga saya harus protes karena nilai 50rb itu terasa sangat menghina, lalu dia pun mulai memberi saya 200rb per bulan. Saya syukuri itu.

Pada hari menjelang kelahiran anak saya, dia masih memilih berangkat ke kantor dan meninggalkan saya sendirian mengerang kesakitan dengan alasan sudah ada janji dengan calon nasabah. Sepulang kerja sekitar masa setelah adzan magrib baru dia menampakkan diri. Memang dia menemani saya di ruang bersalin. Ikut andil dalam proses kelahiran saya. Namun lagi-lagi malam setelah anak saya lahir dia pulang ke rumahnya untuk mengubur ari-ari anak saya. Saya menunggu lama sekali namun dia tak juga kembali ke rumah sakit. Baru kelihatan sesaat setelah adzan subuh karena dia harus sahur di rumah. Sama seperti sebelumnya, hanya sebentar dan dia pergi bekerja. Maka lagi-lagi saya sendirian.

Saya belajar dan berjuang menyusui anak saya sendirian. Yang suami saya pedulikan bukan manfaat dari ASI, namun betapa tak perlu keluar uang kalau saya berhasil memberi anak saya ASI.

Setahun pertama kelahiran anak saya semua kegiatan anak saya yang mengurus apapun kondisi saya. Saat saya sedang sakit pun saya masih harus memandikan anak. Hingga suatu saat saya menangis karena saya merasa sangat lelah saat sakit. Saya bilang padanya untukbelajar memandikan anak karena saat saya sakit saya sangat membutuhkan bantuannya memandikan anak. Barulah dia mau belajar.

Toko online yang saya rintis saat anak saya masih 3bulanan pun membawa berkah. Perjuangan saya yang harus mengambil dagangan dan mengikatnya di jok belakang motor sementara saya menggendong anak pun terbayar. Saya benar-benar mandiri. Bahkan belanja bulanan pun saya atasi. Dari mulai membeli baju, makanan, dan perlengkapan mandipun saya yang berbelanja demi anak saya. Dia masih memberi saya 200rb per bulan. Toko online saya mulai banyak diminati. Dan saya mulai sering terjaga hingga larut malam demi mempersiapkan dagangan saya. Bahkan saat harus menimbangi teh dagangan pun sering kali saya sambi dengan menyusui anak. Ah, tapi usaha saya tak pernah dilihatnya. Dia hanya melihat keburukan-keburukan saya. Dan semua hal baik saya mendadak lebur.

Pada tahun kedua pernikahan kami, dia mendapat modal usaha dari ibu dan kakaknya. Lalu dia mulai bergelut di bidang saham. Entah bagaimana hasilnya yang saya tahu terakhir dia loss dan hanya menyisakan sedikit uang. Lalu dia mulai belajar option trading, sampai mengikuti seminar-seminar dan membeli DVD tutorialnya yang entah berapa uang yang dikeluarkan untuk itu. Dia menggunakan uang sisa dari permainan sahamnya untuk menjajal Option Trading tersebut. Awalnya saya tidak pernah setuju dengan bidang itu. Namun pendapat saya memang selalu dianggap angin lalu olehnya. Pada tahap pertama Option Trading pun dia kalah telak dan menyisakan uang raturan ribu saja.

Tadinya saya kira dia sudah kapok, namun tahun ketiga pernikahan kami pun dia mulai lagi. Kali ini dengan modal pinjaman yang seharusnya saya pakai untuk modal usaha saya dengan seorang kawan. Saya sudah lelah. Maka biarlah. Dan lagi-lagi dia kalah.

Awal tahun ketiga itu saya sudah menyampaikan ultimatum padanya. Jika di akhir tahun dia masih belum ada perubahan, maka saya akan meninggalkannya. Maka benarlah. Saya pergi. Saya menuntut cerai. Sebab saya sudah tak sanggup lagi harus bekerja keras demi suami pemalas yang bahkan tidak tahu merk bedak saya. Saya pergi meninggalkan rumahnya baik-baik dan meminta ijin pada orang tuanya.

Hingga saya mendapat kabar dari kakak saya kalau suami saya menelponnya dan mengeluh banyak hal tentang saya. Tentang saya yang tidak perduli pada anak, tentang saya yang pulang larut, tentang saya yang boros. But hey! Dia lupa kalau saya yang pada akhirnya menjadi tulang punggung. Saya pulang larut karena saya banyak bekerja. Saya Boros karena memang Cuma uang saya yang bias dibelanjakan. Lalu bagaimana? Apa salah jika saya punya impian tinggi dan tak mau berhenti stuck di titik yang sama seperti dia? Saya masih ingin banyak belajar, masih ingin banyak bermimpi. Dan dia hanya bias mengumbar kejelekan saya dengan sosok sok malaikatnya itu.

Tak hanya itu, dia pun bahkan menemui Mama saya untuk mengeluh ini-itu. Sungguh pathetic. Menjadi sosok tak bertanggung jawab dan melempar kebusukan ke orang lain. Saya malu dan menyesal pernah menikah dengannya.

Saya bahkan sudah terlalu lelah mencari uang dan uang demi membeli susu anak saya yang sudah saya sapih saat berumur 2th 3bln. Saya merasa memiliki suami malah menjadi beban saya. Maka saya memutuskan untuk bercerai. Saya memutuskan untuk bahagia.

Kisah ini saya ceritakan karena saya sudah lelah menyimpan. Sudah saya pikirkan. Dan melihat betapa dia saat ini sedang berusaha merusak reputasi saya dengan mengumbar banyak kejelekan saya di depan keluarga saya. Sesungguhnya dia lupa bahwa keluarga saya jauh lebih mengerti saya ketimbang dia.

Jumat, 30 September 2011

Menjadikannya Sebuah Tanya

Hari sudah menjelang sore saat bertubi-tubi hal-hal ini datang. Sebenarnya bukan masalah saya, namun saya turut merasakan. Entah empati atau saya yang sok peka. Setidaknya saya menjadi bingung karenanya. Antara satu dan lainnya semua bukan karena saya. Hanya saja karena saya selalu menjadi 'problem solver' bagi mereka maka saya pun harus turut merasakan. Ya memang demikian. Saya ada di antara-antara. Lalu pada akhirnya saya bertanya-tanya. Dan terakhir saya hanya akan bingung karenanya.

Mencoba menjadi orang baik itu jauh lebih susah dibanding menjadi jahat dan dibenci. Itu kata Simbok saya. Jadi dari kecil saya diajarkan untuk selalu menanam kebaikan agar kelak bisa memanennya. Ah, tapi kini saya ada dalam satu dilema. Ingin menolong tapi tak berdaya, dan akibatnya saya hanya jadi sosok yang tak berguna. Bukannya saya merasa tertekan olehnya, hanya saja membangun satu citra itu sungguh sulit bagi saya. Hingga nantinya saya harus memulainya dari awal mula. Dan terkutuklah saya.

Lalu kenapa saya? Sebab hanya saya yang selalu bisa dan ada. Itu kata mereka. Saya selalu berada di situasi di mana saat seseorang membutuhkan saya, maka saya ada. Dalam bahasa Jawa biasa disebut 'SELO'. sekarang kata itu bahkan biasa dijadikan hash tag dalam twitter. Sebenarnya saya tak merasa terbebani dengan hal-hal ini, saya hanya merasa terbeban saat saya tak mampu apa-apa. Tak bisa membantu bukan karena tak mau, tapi tak mampu sebab saya tak tahu lagi harus bagaimana. Bingung kan jadinya?

Maka sekarang saya tak tahu harus bagaimana. Antara tersiksa dan berusaha tak peduli. Ah, untuk yang terakhir rasanya sulit sekali. Bagaimana mungkin menjadi tak peduli pada sesuatu yang menuntut kita untuk tahu? Ya, saya mengerti. pastinya anda membaca ini dengan banyak tanya tanya. Baik setelah ini saya ceritakan duduk perkaranya. Maka baca baik-baik dan cermati!

Siang tadi seorang kawan yang sedang tertimpa musibah SMS saya. Dia butuh 10jt untuk hari ini. sebenarnya bukan hanya sekali ini dia begini. Sebelumnya dia juga butuh beberapa uang untuk membebaskan tanahnya dari lelang. Maka dia selalu menghubungi saya. Dan saya pun tak keberatan menjadi orang yang dihubunginya. Bukan karena saya selalu membantunya, sebab urusan uang adalah hal yang tak mudah bagi saya. Saya hanya tak keberatan jika dia menghubungi saya.

Kawan saya ini sebenarnya sedang terlibat banyak masalah. Bukan hanya satu atau dua, saya yakin lebih dari itu. Semuanya masalah uang. Yang dari ceritanya bukan bersumber padanya sendiri, melainkan perbuatan orang lain yang tertimpakan padanya. Begitu kiranya. Masalahnya datang bertubi-tubi, begitu ceritanya. Dan saya di sini ada untuk menjadi sosok yang dimintai tolong untuk mencari bantuan. Bukan meminta pada saya secara langsung, sebab dia pun tahu saya tak punya. Cukup sulit bagi saya. Sebab suami saya sudah mewanti-wanti agar saya tidak terlibat masalah hutang-menghutang. Ya, dia tahu pasti urusan begitu bisa mengakibatkan banyak hal merugikan sebab dia bekerja di bank bagian kredit.

Lalu saya menceritakan ini pada anda bukan karena saya mau meminjam uang untuk teman saya. Hanya bercerita agar saya sedikit lega. Tak tahu lagi saya harus bercerita pada siapa. Dilema sebab kawan saya meminta saya mencarikan pinjaman pada kawan-kawan lain. Dilema sebab suami saya tidak mengijinkan saya meminta pinjaman pada kawan-kawan saya. Dilema sebab jika saya bercerita pada kawan lainnya maka kawan saya yang lain itu akan berbicara panjang lebar tentang hal pinjam-meminjam yang dimintai kawan saya yang sedang kesusahan itu. Ah, dilema dan sayapun hanya bisa menjadikannya sebuah tanya.

Kamis, 15 September 2011

Untuk Putra Kecilku di Tahun ke-3

Nak, jika kau sudah bisa membaca, maka baca surat ini. Jika kau sudah mulai bisa memahami, maka cermati tiap kalimatnya. Surat ini mama tulis untukmu, agar kau tahu betapa mama mencintaimu, bahkan sedari kau masih dalam kandungan mama.



Pertama kali mama melihatmu, pukul 22.22 tanggal 15 September 2008 silam, mama langsung jatuh cinta padamu. Sesosok mungil yang sebelumnya terselubung dalam rahim, yang begitu dekat walau tak saling jumpa mata. Sesosok mungil yang geliatnya selalu menghadirkan nyeri dan bahagia sebab mama tahu kau bernyawa di dalam sana. Sesosok mungil yang tiap harinya mama doakan agar terlahir sempurna, sehat, dan rupawan baik fisik maupun jiwa. Maka mama bersyukur pada Yang Memberi Kehidupan atas terkabulnya semua doa mama.

Nak, tahun pertama kehadiranmu adalah masa penyesuaian kita. Kau yang baru di dunia dan mama yang baru menjadi seorang ibu. Kita belajar saling melekatkan. Belajar menyusui dan menyusu. Belajar mengungkapkan dan memahami ungkapan. Belajar mengagumi dan dikagumi. Belajar segala hal dari satu sama lain. Sebab sebelumnya kita satu dan terpisah ketika waktu sudah tiba, lalu kita saling bergantung di dunia.

Nak, mama selalu merasa tanpamu mama tak kan lengkap, dan mama tahu kaupun begitu. Mama membantumu untuk hidup dan kau membantu mama untuk bertahan. Kita saling bergantung. Bukan semata kau yang membutuhkan, tapi mama jauh lebih membutuhkanmu.

Saat kau memeluk mama demi perlindungan, sesungguhnya mama-lah yang terlindung olehmu. Saat kau mencium mama demi rasa sayang, sesungguhnya mama-lah yang mengharapkan rasa sayang darimu. Sebab apapun yang berasal darimu adalah ketulusan. Kau masih sangat bersih dari prasangka. Kau suci dari dosa. itulah yang memberi mama kenyamanan dan kehangatan.

2 tahun 3 bulan yang kau lewati dengan menyusu adalah hal terindah dalam hidup mama. Bukan semata karena kau membutuhkan air susu untuk hidup, tapi mama membutuhkanmu sebagai penyambung hidup mama. Dari tiap tetes ASI yang kau teguk mama selalu berharap banyak padamu. Egois ya, nak. Tapi memang demikian hidup. Mama mencintaimu dengan banyak syarat.

Kehadiranmu 3 tahun ini memberi banyak ilmu pada mama. Tentang memahami bahasamu, memahami tingkah lakumu, bahkan memahami rasa sakitmu. Kita tercipta untuk saling. Dan 3 tahun ini memberi senyuman bahagia, tangis sedih, amarah, penderitaan, semua terangkum bersama dalam ikatan kita. Dan mama mencintaimu karena banyak hal, mencintaimu walau banyak hal, juga mencintaimu demi banyak hal.

Nantinya saat kau memahami ini, mama harap kau bisa turut mengerti. Amarah mama selama ini bukan karena benci, terlebih karena mama sayang. Mama memang tidak memanjakanmu dengan kenyamanan dan limpahan materi. Mungkin sekarang kau belum bisa mengerti, suatu saat kau pahami bahwa cinta yang demikian akan membantumu menjadi sosok mandiri. Agar nantinya jika mama sudah undur diri, kau tak perlu merasa tergantung lagi, kau tak perlu merasa sepi sendiri, sebab kau terdidik untuk mandiri. Itu jauh lebih berarti.

Nantinya saat kau mengerti ini, mama harap kau bisa turut memahami. Cara mama mencintaimu sungguh penuh arti. Bukan sekarang untuk mengerti nak, tapi besok saat kau sudah cukup dewasa. Saat kau menjadi orang tua, barulah kau akan mengerti dan memahami. Cinta ada bermacam arti. Cinta memiliki berbagai cara deskripsi. Dan saat itu kau akan tahu, menjadi orang tua tak pernah mudah. Kau akan mengerti, menjadi orang tua adalah pelajaran bersama sebagai satu tim. Dan kita adalah tim.

Untuk saat ini, mari kita terus belajar satu sama lain. Belajar saling dan saling belajar. Lalu nantinya di hari kelulusanmu giliran kau yang akan belajar dari anak-anakmu. Itu nanti, sebab jalanmu masih panjang, nak. Satu hal yang harus selalu kau ingat, jangan pernah lupa bagaimana menjadi anak, itu cukup membantumu belajar menjadi orang tua.

Terima Kasih anakku,

Mama yang selalu bangga!

Rabu, 07 September 2011

Jatuh Padamu

Terlalu banyak ide untuk menuliskanmu.. Seandainya aku punya banyak waktu, atau setidaknya aku bisa menghentikan waktu, maka dari situ aku akan menulis tentangmu, terus menulismu hingga malam berikutnya berlalu.. Walau aku tak tahu kapan malam itu hadir menjemputku.. Sebab waktu terhenti di situ, hanya kau yang tahu, sebab kau yang menjadi kisahku..


Sayangku, mari memelukku.. Agar waktu sedikit berbaik hati padaku.. Melebarkan kesabaranku.. Menjeda helaan napasku.. Dan aku bisa sedikit berpangku.. Padamu.. Pada waktu.. Pada cerita yang kutulis demimu..


Sayangku, mari mencumbuku.. Agar lupaku hadir besertamu.. Membawaku pada diri yang baru.. Menciptakan tokohku menjadi baru.. Dan aku bisa berpesan palsu.. Padamu.. Pada waktu.. Pada cerita yang kutulis demimu..


Sayangku, mari bercinta denganku.. Agar lebur jadi satu.. Menyekaku dari peluh keibuanku.. Mendesahkan aroma nafsu.. Dan aku orgasme karenamu.. Padamu.. Pada waktu.. Pada cerita yang kutulis demimu..


Maka akupun gila.. Tergila-gila pada tokoh yang maya.. Jatuh tersungkur menjadi lupa.. Sang pencipta yang memuja ciptanya..




Powered by Telkomsel BlackBerry®

Senin, 05 September 2011

Tentangmu Hari Itu

Sudah kusimpan rapi di album waktu..
Bahwa kau pernah ada dan mewarnai hariku..
Dengan warna-warna indah dan kelabu..
Yang awalnya selalu kuingkari sosokmu..
Bahwa pernah kuhapus dari masa lalu..
Hingga cukup dewasa bagiku untuk mengakuimu..
That you were there too..

Seperti katamu dulu..
Ada waktu di mana nantinya kisahmu membuatku tersenyum haru..
Sebab denganmu aku pernah bahagia, murka, dan menangis tersedu..
Menjadikanmu penting di masa dulu..
Ketika kita masih menjadi manusia-manusia tanpa ragu..
Hingga cukup dewasa bagiku untuk mencampakkanmu..
Then you were hurt too..

Dan tentangmu di hari itu..
Mencintaimu bukan hal palsu..
Hingga cukup dewasa bagiku untuk berhenti mencintaimu..
And we were blue..



Powered by Telkomsel BlackBerry®

Sabtu, 03 September 2011

Cinta itu...

Definisi cinta itu sebenarnya hanya bisa kita deskripsikan masing-masing. Saya mendeskripsikan cinta sebagai satu hubungan yang berikatan yang membentuk satu jaringan pada dasar hati juga melewati logika dan nalar. Maka saya menyimpulkan bahwa cinta tak bersyarat itu hanya antara manusia dengan Tuhan.

Lalu bagi sesama manusia yang terjalin adalah cinta bersyarat. Mengapa? Sebab dari cinta yang terjalin di antara manusia selalu terdapat balas dan saling membalas. Seperti cinta saya pada suami saya. Mencintaimu selama kau bisa membahagiakanku. Mencintaimu selama kau mencintaiku. Pada anak saya: mencintaimu agar kau pun mencintai saya dan menyadari keberadaan seorang ibu bagi kehidupanmu. Mencintaimu dan membesarkanmu dengan penuh kasih, agar nantinya saat ibu renta kau mendapat giliran untuk menjaga ibu.

Bagi saya. Entah bagi anda bagaimana. Mungkin sebagian dari anda akan berkata: 'Cinta sesama manusia pun tanpa syarat. Seperti cinta seorang wanita yang disia-siakan oleh suaminya namun tiap hari selalu berdoa demi kebaikan suaminya.' Maka jawaban saya: itu lebih pada cinta si istri pada Tuhan. Cukup besar cintanya pada Tuhan hingga dia berkorban demi makhluk ciptaan-Nya yang sedang tersesat.

Bagi saya. Entah bagi anda bagaimana. Sebagian dari anda akan mengaggung-agungkan cinta seorang ibu pada anaknya sebagai cinta tak bersyarat. Namun bagi saya, cinta seorang ibu selalu bersyarat. Saya mengandung dan melahirkan anak saya demi melengkapi ibadah saya pada Tuhan. Mengabdikan diri menjadi seorang ibu yang menyusui dan mengurus semua kebutuhan anak saya demi ibadah saya pada Tuhan. Dengan cinta yang saya berikan pada anak saya, maka sayapun berharap melalui anak saya nanti doa-doanya akan terpanjat, doa-doanya untuk saya akan didengar oleh Tuhan. Itulah cinta bersyarat saya.

Bagi saya. Entah bagi anda bagaimana.

Loving you

Mencintaimu bukan hanya tentang kesempurnaan. Banyak yang tak sempurna tentangmu dan saya mencintai itu. Banyak yang melukai saya dan saya mencintai itu. Namun cinta yang saya berikan tak pernah sempurna. Sama sepertimu, saya pun tak sempurna.

Maka dengan mencintaimu, saya belajar menjadi tak sempurna. Belajar mencintai ketidak-sempurnaan saya. Belajar menjadi 'nrimo' atas keterbatasan saya. Saya mencintaimu dalam belajar. Saya mencintaimu dalam keterbatasan. Dan saya pun mencintaimu dengan berbagai persyaratan.

Cinta bagi saya bukan berarti berbunga-bunga dan berdebar-debar tiap kali saling rindu. Jaman kita sudah lalu untuk hal semacam itu. Sebab saya mencintaimu dalam sosok bernyawa yang kian hari, kian membentuk menjadi manusia kecil dengan sifat-sifatnya yang baru.

Melihat betapa hidu di sekitar kita mulai tak lagi bisa membuat saya bersabar, saya hanya bisa berkata: Saya lelah. Bukan lelah karena mencintaimu. Saya lelah karena saya mulai tak lagi bisa bersabar menerima ketidak-sempurnaan ini. Saya sudah cukup berusaha bersamamu. Saya sudah cukup mencoba berbahagia denganmu. Namun tak seperti usaha-usaha saya. Kehidupan di sekitar kita tak mau tahu itu. Kaupun mengerti. Hanya saja kau tak berusaha untuk membentuk sesuatu yang baru bagi kita. Kau hanya meng-iya-kan dan meminta maaf.

Saya mulai berpikir panjang. Terlalu panjang bahkan saya pun lelah untuk berpikir. Saya melihat banyak hal di depan saya. Membuat opsi-opsi hidup saya. Jika dan jika, bila dan bila. Semua saya pikirkan. Sebab kau tau saya orang yang sangat teliti. Untuk hal-hal kecil pun saya sangat teliti. Saya ingin pergi. Bukan meninggalkanmu sebab saya sangat mencintaimu. Saya pergi demi saya sendiri. Saya pergi demi keegoisan saya. Dan kamu tahu saya berhak untuk itu. Dan kau hanya diam lalu mengangguk.

Maka sayangku, demimu dan demi cinta kita, saya pun memberimu waktu. Sampai akhir sebelum tahun berganti angka. Bawa saya pergi dan bersama kita menentukan cerita selanjutnya. Atau saya akan pergi meninggalkanmu demi cerita yang akan saya tentukan sendiri.

Hidup bagi saya tak pernah mudah. Mencoba bahagia pun selalu membawa masalah. Kini kau pun tahu ada saat di mana saya mulai sangat lelah. Mencintaimu yang tak selalu indah. Dan menentukan hidup saya yang akan menjadi satu kisah.

Mencintaimu tak membuat saya mampu berkorban. Dan maafkan.

Rabu, 02 Maret 2011

Kemarin Sore


Kemarin sore, saya mengucapkan kata pertama padanya… walau hanya begitu, namun saya sangat bahagia. Saat saling berbicara, rasanya saya sedang melayang-layang di udara. Saat saling berbicara, rasanya seluruh tubuh saya bergetar tak terhingga. Walau hanya begitu, namun saya sangat bahagia. Sebab saya mencintainya... sebab saya juga memujanya... dan sebab dia tak tahu apa-apa tentang rasa hati saya.
Kemarin sore, adalah sore terindah dalam hidup saya... walau hanya sedikit bercakap-cakap, namun saya sangat senang. Saat saya menatap matanya yang dingin. Saat saya mendengar suaranya yang maskulin. Walau hanya sedikit bercakap-cakap, namun saya sangat senang. Sebab saya menyukainya... sebab saya juga mengaguminya... dan sebab dia tak tahu apa-apa tentang gejolak hati saya.
Kemarin sore, seandainya saya bisa mengulanginya lagi... saya ingin menghabiskan tigapuluh detik itu dengan sangat cermat. Bukan hanya bertanya tentang hal-hal yang tidak penting. Namun saya akan mengungkapkan kegalauan hati saya karenanya. Walau hanya tigapuluh detik, namun saya sangat gembira. Sebab saya menyayanginya... sebab saya juga mengimpikannya... dan sebab dia tak tahu apa-apa tentang isi hati saya.
Kemarin sore, seandainya saya bisa meminta sang waktu untuk berhenti sejenak... saya ingin mengenalinya lebih dalam lagi. Menikmati saat-saat yang terhenti itu dengan baik. Merekamnya dalam memori saya. Lalu saya juga akan mengungkapkan betapa hati saya telah tercuri olehnya. Walau hanya sejenak, namun saya sangat mensyukurinya. Sebab saya mengkasihinya... sebab saya juga menginginkannya... dan sebab dia tak tahu apa-apa tentang andai-andai saya.
Kemarin sore, adalah sore terindah dalam hidup saya... sebab saya bisa bercakap-cakap dengannya selama tigapuluh detik untuk pertamakalinya. Dan sore itu tak akan pernah saya lupakan, sebab kemarin sore adalah sore termegah dalam kisah kasih saya.


(Jogja, 28 Oktober 2005)

Untuk Kekasihku di Masa Depan


Saat ini kita belum berjumpa untuk kali pertama
Darimu kuminta kesediaan hati untuk mencinta
Sebuah cinta yang tak sederhana dan tak biasa
Bukan cinta tanpa syarat dan tanpa raga
Aku mau kau mencintaiku dengan kemewahanku
Mencintaiku dengan keegoisanku
Mencintaiku dengan amarahku
Mencintaiku dengan nafsuku
Cinta yang akan kita bina nanti adalah cinta yang tak sempurna
Cinta yang penuh dengan luka
Cinta yang bukan pengorbanan semata
Namun dengan semua itu kita kan tahu bagaimana menjadi bahagia
Cinta yang tak ada dalam dongeng
Cinta dalam waktu berselang
Cinta dalam ikatan yang tak lekang
Sebab kita telah sepasang
Untuk kekasihku di masa depan
Bila tlah sampai waktu kita berjumpa
Maka kau telah siap penuhi syaratku semua
Yang kan kubalas dengan rasa setia tiada tara
Dengan begitu kita kan bahagia




17 November 2007

Sajak Untuk Pujaanku

Aku adalah sang pemuja…
Yang setiap kalinya selalu melihatmu duduk di sudut sana…
Melihatmu tertawa…
Bercengkrama…
Setiap waktu selalu memperhatikanmu
Membawangkanmu datang dan menghampiriku…
Lalu tersenyum padaku…
Setelah itu kau akan duduk di sampingku
Sementara kau bercerita tentang hari-harimu
Kau pun menanyakan kabarku
Dan aku pun mulai berbicara tentang kisahku yang lalu
Tetapi, setiap waktu aku pun tersadar juga
Bahwa semua itu hanya cerita yang kukhayalkan tiap harinya
Entah kau tahu atau kau mengira-ngira
Setidaknya aku adalah nyata
Lalu suatu waktu di sudut bangku itu
Aku kembali memperhatikanmu
Hingga semua berlalu
Dan yang tersisa hanyalah sang waktu, aku, dan bayangmu

Ketika saya membayangkan sang malam…


Hati saya berdendang senang…
Jiwa saya terbang melayang …
Perasaan saya terbebas dari kelam…
Benak saya terlepas dari suram…

Ketika saya membayangkan sang malam...

Sebuah mimpi menjadi nyata...
Sebuah kenangan tak lagi maya...
Sebuah harapan tak sekedar hasrat...
Sebab sang malam telah membuat saya terpikat...

Ketika saya membayangkan sang malam…

Dunia menjadi indah gemilang…
Langit gelap penuh dengan bintang…
Saya merasakan cinta penuh membahana…
Saya merasakan dendang bahagia…

Hari Ini


Hari ini kulewati seribu waktu menumpu...
Hari ini kujajaki sejuta hati melayu...
Diam! Biar kulagukan sebaris pujian
Tenang! Biar kualunkan merdu nyanyian

Hari ini kudapati sebilah cinta merayu...
Hari ini kulalui searah jalan menunggu
Berhenti! Biar kuamati tabur bintang di awan kelabu
Resapi! Biar kudengarkan syair cinta syahdu

Nanti dan dinanti...kan kutemui
Tunggu dan ditunggu kan kujalani
Hidup bersama mimpi nan merayapi
Hidup bersama cinta tak terdaki
Dan ku jatuh cinta pada hari ini...

Juwitaku Sendiri


Tertawalah selagi kau bisa…
menangislah selagi kau mampu…
sebab setelah kau lewati masa sendirimu, kan kuikat kau dengan tali kasihku…
kan kujadikan kau bonekaku…
hingga tak ada lagi aku, kau, dia.
Hanya kita dan kami.
Melangkahlah selagi kau kuat…
 menarilah selagi kau bergairah…
sebab setelah kau lewati masa sendirimu, kan kuborgol kau dengan rantai emasku…
kan kujadikan kau pajanganku…
hingga kita hanya ada kita.
Dalam satu yang satu.
Juwitaku sendiri berlari dengan langkah manisnya…
menerjang hujan di musim kemarau…
mengejar kekasihmu yang aku.
Betapa cintamu membuatku tak lagi rela melepasmu.

Juwitaku percayalah, bahwa tanpamu aku tak mampu terbang…
Sebab kaulah sayapku, kaulah kekuatanku…
Bahwa tanpamu aku tak mampu berlayar…
Sebab kaulah perahuku, kaulah anginku…
Maka Juwitaku sendiri…
Menanti kekasihmu yang aku…
Agar kita satu dalam satu…
Agar kita mampu terbang dan berlayar…
Dalam satu waktu, dalam kita.






Mandala 1 Jogja, 17 November 2007

Dalam Mimpi Itu Saya Berlari

            Semalam saya mimpi buruk sekali… mimpi itu membuat saya berlari jauh-jauh karena ingin bersembunyi. Mimpi buruk yang terasa amat nyata. Atau memang semua itu bukan hanya mimpi belaka?
Tapi, hingga saya bangun tadi pagi, saya tak ingat lagi apa yang membuat saya berlari. Walau perasaan takut masih menghinggapi saya hingga kini. Perasaan was-was masih menyelimuti saya sampai sekarang. Perasaan aneh karena saya memang tak bisa mengerti mengapa.
            Ketika harus bekerja pun saya masih memikirkan dan berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi dalam mimpi saya itu. Namun, tak juga ketemu. Tak juga terpecahkan. Bisa-bisa saya gila hanya karena penasaran berlebih pada mimpi buruk yang terlupa ketika bangun dari lelap.
            Bahkan saat malam kembali datang, saya masih berharap untuk bisa meneruskan isi mimpi saya itu. Seandainya saja saya tahu sebabnya, pastinya akan lebih mudah bagi saya untuk mempersiapkan diri sebelum tidur dan bertemu dengan sang mimpi.
            Sangat menyiksa. Saya hanya ingin tahu saja.



29 April 2009